Akhirnya ke 5 remaja tersebut memutuskan untuk menghadapi alam liar tersebut tanpa adanya sebuah pengawalan. Dari situlah mereka banyak belajar dari pengalaman yang mereka dapatkan saat menjelajahi alam liar tersebut, termasuk ketika harus berjuang mencegah kebakaran yang diakibatkan karena kelalaian para penjelajah hutan yang lainnya.
Ditengah keadaan yang kurang baik, sopir dan juga sekaligus penunjuk jalan mereka adalah seorang pria dari Flores yang bernama Heronimus (Godfred Orindeod), muncul ketika ke empat remaja tersebut membutuhkan pertolongan.
Suatu ketika saat mereka sedang melakukan perjalaan, ke 5 remaja tersebut berpapasan dengan beberapa tokoh adat di sekitar hutan belantara yang mereka lalui, yang kemudian menolong usaha mereka mencari sumber mata air tersebut.
Salah satunya yang mereka temui yaitu seorang yang bernama Ki Barja (Egy Fedly), dia merupakan warga desa yang mengabdikan diri untuk menjaga hutan, Maya dan tim nya, aktifis peneliti serangga capung yang menjadi indikator bagi kemurnian air dan pada akhirnya mereka tinggal sejenak di desa adat, bertemu dengan Neneknya Chinta yang bernam Bunda Ully (Ully Sigar Rusady) bersama relawan yang selama ini berjuang menjaga lingkungan hidup dan masyarakat adat.
Mereka semua akhirnya bersama berusaha menemukan sebuah mata air yang tetap sangatlah murni serta tidak terjamah atau belum di jamah oleh siapapun. Namun semacam yang sudah sama-sama diketahui dari awal. Menemukan mata air semacam itu sangaatlah begitu sulit. Namun pencarian mereka terobati ketika mereka hingga di suatu telaga, dimana puluhan mata air bermuara disana. Di telaga itu mereka merenungkan alangkah beratnya tantangan bagi umat insan untuk berhadapan dengan diri mereka sendiri yang serakah merusak alam serta mata air.
Dari semua yang mereka lalui saat melakukan sebuah perjalanan akhirnya mereka semua dapat sebuah pelajaran behwa setidaknya menjadi suatu awal yang baik untuk mulai mencurahkan keperdulian pada apa yang selagi ini begitu penting serta berharga bagi umat manusia, yang alam sudah berbagi dengan berkelimpahan, Mata Air.
Dan dari film indonesia My Journey: Mencari Mata Air ini kita mendapatkan beberapa pelajaran tentang behwa setidaknya menjadi suatu awal yang baik untuk mulai mencurahkan keperdulian pada apa yang selagi ini begitu penting serta berharga bagi umat manusia, jadi jangan lah merusak Mata Air.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar